{"id":72,"date":"2020-04-07T02:55:00","date_gmt":"2020-04-07T02:55:00","guid":{"rendered":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/?p=72"},"modified":"2020-04-08T03:21:57","modified_gmt":"2020-04-08T03:21:57","slug":"dont-allow-lockdown-to-lock-up-the-mind","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/2020\/04\/07\/dont-allow-lockdown-to-lock-up-the-mind\/","title":{"rendered":"Don\u2019t allow lockdown to lock up the mind"},"content":{"rendered":"\n<p>By Dzulkifli Abdulrazak<a href=\"#_ftn1\">*<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya <em>\u201clockdown\u201d <\/em>itu di\nsini. Kata yang amat baru bagi kebanyakan orang. Tidak ada yang betur-betul tahu\napa arti <em>\u201clockdown\u201d<\/em> yang sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata \u201c lockup\u201d lebih dikenal orang.\nAkhir-akhir ini, kata tersebut sering muncul di baju-baju oranye atau ungu yang\ndipakai oleh orang yang terlibat dalam kasus criminal, termasuk kasus korupsi (\ndi Malaysia). Tetapi, bagaimana dengan <em>\u201clockdown\u201d<\/em>? Rupanya, ada\nberagam&nbsp; tipe <em>\u201clockdown\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Hingga saat ini, kata tersebut\ndimaknai sebagai \u201cmembatasi daerah tertentu\u201d, dimanapun daerah itu berada.\nSebuah tindakan pencegahan sebagai tanggapan pada ancaman langsung maupun tidak\nlangsung di lingkungan masyarakat. Maka jika suatu kota di <em>\u201clockdown\u201d <\/em>orang-orang\nyang berada di kota tersebut tidak diperbolehkan untuk keluar. Wuhan, pusat\ncoronavirus, adalah salah satu contoh klasik. Segala sesuatu diberhentikan. Sekarang,\nnampaknya ada makna yang lebih sederhana : tinggal di rumah #dirumahaja.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengutip Perdana Mentri Malaysia\ndalam pidatonya \u201c<em>duduk di rumah<\/em>\u201d. Terdengar mudah dilakukan, tetapi\nternyata tidak, karena kita sangat aktif dan bergerak lebih dari yang kita\nsadari. Inilah yang sulit dipahami, bukan hanya di Malaysia tetapi juga di seluruh\ndunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejauh ini, kita sering kali\ndiingatkan untuk terbiasa dengan perubahan yang cepat, karena&nbsp; waktu adalah uang. Melakukan sesuatu dengan\nlambat berarti kehilangan uang, maka dari itu tidak disukai. Jadi kita\nterdorong untuk melakukan segala sesuatu dengan cepat, nyaris seperti mesin,\nuntuk mendapatkan uang! Tiba-tiba, kita diminta untuk menginjak rem kuat-kuat,\nberhenti. <em>Stay put<\/em>. <em>Duduk diam-diam<\/em>. Dirumah aja. Uang sudah\ntidak penting lagi. Bertahan hidup lebih diperlukan. Menghindar, bersembunyi\ndan tidak melakukan apapun. Itulah <em>\u201clockdown\u201d<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Perubahan besar ini, membuat\norang-orang harus membiasakan diri. Dan hal ini menjadi lebih berat karena masa\nnya yang lumayan lama. Karena kita akan menjadi cepat bosan dari biasanya atau\nmerasakan \u201c ketidakmenentuan\u201d kemana semua ini mengarah. Hal ini dapat\nmenggoncang emosi dan membuat setres. <\/p>\n\n\n\n<p>Kita mencoba untuk \u201ckabur\u201d tetapi\nsebaliknya jiwa kita terkurung! Hal ini terus berlanjut, penyebaran wabah\ncovid-19 membuat emosi kian tak menentu setiap harinya. Tidak seperti\npenyebaran virus lain, gejala-gejalanya tidak mudah dideteksi-tidak mudah\ndibasmi. Pengaruhnya pun akan semakin buruk apabila tempat yang disebut \u201crumah\u201d\ntidak lagi sesuai dengan <em>\u201clockdown\u201d<\/em> dalam masa tertentu. Hal tersebut\nbisa menjadi bom waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Rasa bosan dan ketidakstabilan emosi\ndapat mengarah pada perilaku yang tidak benar yang mana bisa berbahaya bahkan\ndapat menjadi ancaman hidup. Dalam beberapa kasus, hal tersebut bisa berupa\npenyerangan atau upaya bunuh diri yang memang angka kenaikannya pun sudah\ntinggi ketika dalam situasi \u201cnormal\u201d. Pandangan <em>human-centric <\/em>ini\nbagaimanapun tidak cukup ditekankan, terutama dalam konteks kesehatan mental\nyang melibatkan siswa dan anak muda. Inilah permasalahannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini menjadi lebih mengkhawatirkan\nketika dikaitkan dengan pengaturan pendidikan -sekolah dan universitas \u2013 secara\numum. Data terbaru menyatakan bahwa yang disebut \u201cPendidikan\u201d itu tidak lagi\nmemadai dalam mempersiapkan para peserta didik untuk mengatasi tantangan hidup\ndi masa depan. Tetapi lebih kepada mempersiapkan bagaimana mencari penghidupan\nbukan bagaimana caranya hidup yang menjadi tujuan utama Pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan yang \u201cbaru\u201d diarahkan untuk\npenghasilan dan pemakaian yang dipenuhi oleh keserakahan dan kepuasan yang\ninstan berdasarkan keinginan materi bukan karena kebutuhan. Tujuan hidup yang\ndibingkai dengan cara ini jauh dari apa yang seharusnya diberikan oleh\nPendidikan. Hal itu telah menyimpang jauh dari kebijaksanaan dalam <em>\u201cFalsafah\nPendidikan Kebangksaan\u201d<\/em> (Malaysia) yaitu tentang memelihara\nkeseimbangan&nbsp; dan keharmonisan manusia\ndan bukan <em>\u201cmodal insan\u201d<\/em>. Sebaliknya, <em>\u201cinsan seimbang\u201d<\/em> dengan\nmekanisme penanggulangan humanistik yang utuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah sebenarnya awal dari penguncian\nmental yang terwujud oleh <em>\u201clockdown\u201d<\/em>. Kontras dengan Italia yang\nmengalami kasus yang lebih parah, kita diperlihatkan bagaimana mereka\nmenghadapi situasi yang mengerikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pikiran kreatif mereka tidak\n\u201cdihancurkan\u201d oleh Covid-19&nbsp; dalam\nperjuangan untuk tetap hidup meski lockdown dan dalam penyebaran militer\nseperti yang kita lakukan. Mental mereka lebih disiplin, lebih sehat, lebih\nkuat dan itu lebih diperhitungkan ketika kita melawan musuh yang tak terlihat,\nmelampaui hal-hal yang dilakukan secara fisik.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka menciptakan <em>window tennis<\/em>.\nMereka bertepuk tangan dengan serentak dari apartemen masing-masing untuk\nmenunjukan apresiasi kepada para korban sebagai pahlawan tak dikenal setiap\nharinya, perayaan ulang tahun dirayakan di balkon masing-masing, begitu pula\ndengan pernikahan, dengan musik yang dimainkan oleh masyarakat dengan sukarela.\nDengan kata lain, hidup tetap berlanjut meski dalam kondisi yang buruk.<\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi, itu pun tidak cukup jika pikiran kita tetap terkurung. Inilah yang harus kita pahami untuk bergerak maju mengklaim kemanusiaan kita sebelum corona virus yang mendapatkannya. Pertama-tama, bebaskan pikiranmu! Jadilah orang yang sehat mental, tidak seperti tangan(yang harus sering-sering dicuci), jangan sampai otakmu tercuci! <em>Diterjemahkan oleh<\/em> Zaakyah.<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\">*<\/a> Penulis adalah\nkolumnis NST lebih dari 20 tahun, Rektor International Islamic University\nMalaysia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>By Dzulkifli Abdulrazak* Akhirnya \u201clockdown\u201d itu di sini. Kata yang amat baru bagi kebanyakan orang. Tidak ada yang betur-betul tahu apa arti \u201clockdown\u201d yang sebenarnya. Kata \u201c lockup\u201d lebih dikenal orang. Akhir-akhir ini, kata tersebut sering muncul di baju-baju oranye atau ungu yang dipakai oleh orang yang terlibat dalam kasus criminal, termasuk kasus korupsi ( [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":74,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72"}],"collection":[{"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=72"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":77,"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/72\/revisions\/77"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/74"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=72"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=72"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/penerbityita.al-ikhlash.ponpes.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=72"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}